Pandangan Islam Soal Mencari Harta, Bolehkah Seorang Muslim Menjadi Kaya Raya?
Ditulis Oleh Riki Irfan
KARTINI – Setiap manusia tentu mendambakan hidup yang nyaman, berkecukupan, serta mampu memenuhi segala kebutuhan keluarga tercinta. Dalam benak sebagian orang, muncul pertanyaan: Apakah keinginan untuk memiliki harta melimpah dilarang dalam ajaran Islam?
Jawabannya: Tentu saja tidak. Islam tidak pernah melarang apalagi membatasi umatnya untuk menjadi kaya. Jika kita menengok sejarah Islam, banyak sahabat Rasulullah ﷺ yang dikenal sebagai pebisnis ulung dengan kekayaan melimpah, seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.
Namun, Islam memberikan panduan agar kita tidak tersesat dalam mengejar materi. Harta bukanlah tujuan utama kehidupan, melainkan sarana untuk beribadah dan alat untuk berbagi kebaikan demi meraih keridaan Allah Ta’ala. Berlomba mencari harta diperbolehkan selama ditempuh dengan cara yang halal, adil, dan bertanggung jawab—bukan melalui kezaliman, suap, korupsi, atau cara-cara bathil lainnya.
1. Harta adalah Amanah, Bukan Hak Mutlak
Dalam pandangan Islam, seluruh harta di dunia pada hakikatnya adalah milik Allah. Manusia hanyalah pemegang amanah yang diberi kesempatan untuk mengelola dan memanfaatkannya. Di akhirat kelak, setiap rupiah yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah Ta’ala berfirman:
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (pemegang amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan hartanya memperoleh pahala yang besar.”
(QS. Al-Hadid: 7)
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan pentingnya menjaga amanah harta dalam sabdanya:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.”
(HR. Tirmidzi)
2. Islam Mengajarkan Kerja Keras, Bukan Kemalasan
Syariat Islam sangat memuliakan ikhtiar dan kerja keras. Umat Muslim diperintahkan untuk giat mencari rezeki yang halal setelah menunaikan kewajiban utama ibadah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Jumu’ah: 10)
Bahkan, rezeki terbaik adalah rezeki yang didapat dari keringat sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari)
3. Rambu-Rambu Muslim dalam Mengumpulkan Harta
Rezeki memang sudah ditetapkan oleh Allah, namun manusia tetap wajib berikhtiar memjemputnya. Agar harta yang dikumpulkan membawa keberkahan bagi keluarga, Islam memberikan panduan dasar:
- Wajib Ditempuh dengan Cara Halal
Hindari riba, korupsi, penipuan, judi, dan pencurian. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka…” (QS. An-Nisa: 29) serta “…Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275).
- Tidak Menjadikan Harta Tujuan Utama
Jagalah keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS. Al-Qashash: 77).
- Jauhi Sombong dan Riya
Keberhasilan ekonomi tidak boleh melahirkan kesombongan. Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).
- Peduli dan Berbagi dengan Sesama
Keluarkan zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Islam menginginkan pemerataan agar harta tidak hanya berputar di lingkungan orang-orang kaya saja (QS. Al-Hasyr: 7).
- Tidak Menimbun Harta
Allah memberikan peringatan tegas bagi siapa saja yang menumpuk harta tanpa menunaikan kewajiban zakat dan infak di jalan-Nya (QS. At-Taubah: 34).
4. Tiga Harta Terbaik yang Wajib Dikejar
Di samping harta berupa materi, Rasulullah ﷺ pernah mengungkapkan hakikat harta terbaik yang sesungguhnya. Uniknya, harta terbaik ini tidak memerlukan modal uang atau koneksi jabatan, melainkan bertumpu pada kekuatan iman kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik harta yang dimiliki seseorang adalah hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir kepada Allah, dan istri yang salehah yang membantu suaminya dalam urusan akhirat.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Mengapa tiga hal ini menjadi harta terbaik bagi keluarga Muslim?
- Hati yang Bersyukur: Membuat jiwa senantiasa merasa cukup dan tenang (qana’ah). Allah berjanji: “Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7).
- Lisan yang Basah dengan Zikir: Menjadikan hati selalu hidup dan terhubung dengan Allah. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
- Pasangan yang Saleh/Salehah: Menjadi benteng keimanan dan pendamping terbaik menuju surga. Rasulullah ﷺ bersabda: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim).
Islam menyukai umatnya yang produktif, mandiri, dan mapan secara ekonomi. Namun, kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari besarnya saldo tabungan atau mewahnya aset yang dimiliki. Mari kita terus bekerja keras dan berbisnis secara jujur demi menafkahi keluarga. Di saat yang sama, jangan lupa untuk selalu mengejar tiga harta terbaik. Hati yang pandai bersyukur, lisan yang gemar berzikir, serta pasangan yang saling mendukung dalam ketaatan. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rezeki yang halal dan berkeberkahan kepada keluarga kita, serta menjadikan harta tersebut sebagai jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Bionarasi Penulis :
Riki Irfan seorang Ahli Geotermal, aktif mendukung gerakan literasi (Penasihat Forum TBM Kuningan), selain menulis artikel, Ia juga aktif mengajar di Universitas Al-Ihya Kuningan hingga saat ini.










