Menghitung Hari, Menjemput Bekal Pulang

Oleh : Riki Irfan

KARTINI – Pernahkah Anda duduk sejenak di sore hari, memperhatikan wajah-wajah tercinta di rumah, lalu menyadari betapa cepatnya waktu berlalu? Saat masih muda dulu, isi kepala kita mungkin didominasi oleh nilai sekolah, urusan asmara, tangga karier, atau bagaimana agar terlihat sukses di mata orang lain. Namun seiring bertambahnya usia, sudut pandang kita tentang hidup perlahan berubah. Apalagi ketika satu per satu orang yang kita kenal—keluarga, sahabat, atau tetangga dekat—mulai mendahului kita kembali ke haribaan-Nya. Kehilangan demi kehilangan itu sebenarnya adalah “teguran lembut” dari Allah. Kita diingatkan bahwa hidup ini singkat, dan suatu saat nanti, giliran kita yang akan dipanggil pulang.

Dunia Ini Cuma Tempat Persinggahan

Sering kali kita begitu sibuk memperindah “rumah singgah” bernama dunia, hingga lupa bahwa kita hanyalah seorang musafir. Rasulullah ﷺ pernah berpesan:

“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.”

(HR. Bukhari)

Seorang musafir yang bijak tentu tidak akan menghabiskan seluruh perbekalannya hanya untuk mempercantik pos persinggahan sementara. Ia justru akan fokus mengumpulkan bekal agar selamat sampai ke tujuan akhir.

Allah SWT juga mengingatkan kita:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”

(QS. Al-Ankabut: 57)

Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu gerbang menuju kehidupan yang abadi. Agar hati tidak gelisah mengejar dunia yang tak ada habisnya, cukuplah kita menambatkan hati kepada Sang Pencipta: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Pesan Manis di Balik Rambut yang Memutih

Rambut yang mulai beruban atau tubuh yang tak sekuat dulu bukanlah sekadar tanda penuaan. Itu adalah wujud kasih sayang Allah untuk membisikkan pesan: waktu kita di sini tidak lama lagi.

Sebelum rasa penyesalan datang di hari kemudian, mari kita resapi nasihat indah dari Rasulullah ﷺ untuk memanfaatkan lima kesempatan emas:

  • Masa muda sebelum datang masa tua
  • Masa sehat sebelum datang masa sakit
  • Masa kaya sebelum datang masa miskin
  • Waktu luang sebelum datang waktu sibuk
  • Masa hidup sebelum datang kematian

(HR. Al-Hakim)

Hari ini kita masih diberi napas dan kesempatan. Esok hari? Belum ada yang bisa menjamin.

Menyiapkan Bekal Terbaik untuk ‘Pulang’

Menyadari bahwa kita semua sedang “mengantre” untuk pulang tentu bukan untuk membuat kita takut atau bersedih secara berlebihan. Justru, kesadaran ini hadir agar kita lebih bijak menyiapkan bekal. Allah SWT berfirman:

“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

(QS. Al-Baqarah: 197)

Saat saatnya tiba, harta kekayaan atau jabatan tinggi tak akan ikut masuk ke liang kubur. Bekal paling berharga yang bisa kita bawa adalah iman, takwa, amal saleh, serta jejak kebaikan yang terus mengalir pahalanya. Sebagaimana janji Rasulullah ﷺ:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, putuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Sisa Waktu yang Penuh Berkah

Tulisan sederhana ini adalah pengingat tulus, terutama bagi diri penulis sendiri dan kita semua. Selama Allah masih mengizinkan jantung kita berdetak hari ini, jangan biarkan waktu berlalu sia-sia. Mari kita perbaiki kualitas ibadah kita dengan terus menuntut ilmu syar’i agar sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Mari kita perbanyak istighfar, rasa syukur, dan kebaikan di dalam rumah serta lingkungan sekitar.

Pada akhirnya, hal terindah dalam hidup bukanlah seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa dekat hati kita dengan Allah saat waktu kepulangan itu tiba. Semoga Allah melimpahkan keberkahan pada sisa umur kita, mengisinya dengan amal saleh, dan mengaruniai kita akhir hidup yang husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Bionarasi Penulis :

Riki Irfan, aktif menulis artikel baik ilmiah maupun keagamaan. Kecintaannya pada dunia literasi juga dibuktikan dengan keterlibatannya sebagai Pembina di berbagai komunitas literasi. Diantarany Forum TBM Kuningan dan Sekolah Alam Bratakasin. Saat ini tercatat sebagi Dosen di Universitas Al-Ihya Kuningan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *