Di Balik Kartu BPJS, Petani dan Pedagang Kecil di Kuningan Kini Tak Lagi Bekerja dalam Kekhawatiran

KARTINI (Kuningan)  — Bagi Romli, pedagang cilok dari Desa Ciniru, bekerja sehari-hari di jalanan bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga menghadapi risiko yang tak bisa diprediksi. Kini, rasa khawatir itu perlahan memudar setelah ia menerima Kartu BPJS Ketenagakerjaan yang menjamin perlindungan kecelakaan kerja dan kematian.

“Saya tidak pernah tahu kalau terjadi musibah, tapi sekarang ada jaminan. Rasanya lebih tenang,” ujar Romli dengan senyum lega usai menerima kartu secara simbolis di Aula Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Selasa (15/10/2025).

Rasa aman yang dirasakan Romli juga dirasakan para petani seperti Emo, warga Desa Jalaksana yang menggantungkan hidup dari panen cengkeh dua tahunan. Ia mengaku, jaminan ini membuatnya lebih berani dan fokus bekerja di kebun. “Kalau ada kecelakaan saat panen, sudah ada yang menjamin. Kami merasa lebih aman,” katanya.

Sebanyak 3.247 pekerja rentan, termasuk petani tembakau dan cengkeh di Kabupaten Kuningan, kini telah terdaftar dalam program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan melalui pendanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2025.

Program ini memberikan dua manfaat utama bagi peserta, yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). JKK menanggung seluruh biaya pengobatan hingga sembuh jika peserta mengalami kecelakaan kerja, sedangkan JKM memberikan santunan bagi ahli waris serta beasiswa pendidikan bagi dua anak hingga perguruan tinggi.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kuningan, Guruh Irawan Zulkarnaen, menyebutkan bahwa pemerintah daerah mengalokasikan Rp 218,19 juta dari DBHCHT 2025 untuk membiayai iuran BPJS bagi para pekerja di 10 kecamatan dan 83 desa.

Langkah ini mendapat apresiasi dari BPJS Ketenagakerjaan Cabang Cirebon, yang menilai kebijakan tersebut sejalan dengan upaya nasional melindungi pekerja sektor informal.

“Pemerintah daerah berperan besar dalam memperluas jangkauan perlindungan sosial bagi petani dan pedagang kecil,” ujar Kepala Cabang, Ahmad Faisal Santoso.

Bagi para pekerja seperti Romli dan Emo, jaminan sosial ini bukan sekadar program pemerintah, tetapi benteng kecil yang menumbuhkan rasa aman dan harapan di tengah ketidakpastian hidup. (vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *