Ketika Dunia Murka
Berpasang sayap diciptakan, menerka-nerka barangkali bahagia menyatu bersama udara yang disulap jadi pintalan kapas putih biru. Malang, kegelapan yang menjadi hujan dan badai menyapu seluruh asa. Tinggalkan puing-puing yang terapung bersama jasad-jasad tak bertuan.
Jerit langit berabad-abad tertahan, kini meledak sudah. Deras tanpa henti menjadi aliran air mata. Kepingan Nurani dalam senyap lantunkan doa-doa kehilangan. Bendera merah putih yang terpancang di halaman sekolah beratap seng pun diterbangkan amarah.
Berkali-kali isyarat Tuhan dileburkan longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus hingga sunami. Tapi kesadaran itu seperti tulisan mati yang terpasang pada spanduk-spanduk kampanye para pendusta. Sedang yang bersungguh-sungguh merawat bumi, perlahan tubuhnya keropos oleh usia.
Tuhan…
Jika ratap ini sia-sia, sudi kiranya beri waktu untuk melembutkan hati. Mereka yang atas nama kekuasaan, menemukan cintaMu. Agar tidak lagi mencipta perang saudara, tidak lagi mencipta senjata penghancur masa yang dibungkus sutra bernama teknologi dan digitalisasi.
Jika hal-hal lamban mampu menjaga keseimbangan, haruskah perubahan justru mempercepat datangnya hari akhir dari segala kehidupan. Ketika saat itu tiba, bukankah tidak ada satu kekuatan mampu mencegahnya selain sesal yang terlambat.
Kuningan, 28 januari 2026
Ditulis oleh Vera Verawati










