Banyak Usulan Disaring, Masyarakat Cilebak Minta Janji Pembangunan Tak Sekadar Wacana

KARTINI (Kuningan) – Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tingkat Kecamatan Cilebak Tahun 2026 menjadi ruang penting bagi warga untuk menyuarakan kebutuhan riil di wilayahnya. Namun di balik seremoni pembukaan oleh Dian Rachmat Yanuar, masyarakat berharap hasil forum tak sekadar menjadi daftar usulan tahunan.

Kegiatan yang digelar di Kecamatan Cilebak dan difasilitasi Bappeda Kabupaten Kuningan itu menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menyusun perencanaan berbasis kebutuhan. Bupati menekankan agar usulan tidak didorong oleh keinginan semata, melainkan benar-benar menyentuh persoalan mendesak.

Meski demikian, sejumlah tokoh masyarakat menilai tantangan terbesar bukan pada perumusan prioritas, melainkan konsistensi realisasi. Infrastruktur jalan antar desa, jaringan irigasi pertanian, hingga penguatan sektor produktif disebut sudah lama menjadi aspirasi utama, khususnya di wilayah selatan Kabupaten Kuningan.

Wilayah Cilebak yang berada di dataran tinggi pegunungan dengan tujuh desa dan lebih dari 11 ribu jiwa memiliki kebutuhan spesifik. Akses telekomunikasi di beberapa titik masih terbatas, pelayanan pemerintahan perlu ditingkatkan, dan infrastruktur pendukung ekonomi desa dinilai belum optimal.

Dalam forum tersebut, Camat Cilebak Rio Cahyadi memaparkan kondisi geografis serta daftar usulan prioritas yang telah dihimpun dari desa-desa. Ia menegaskan seluruh program difokuskan pada skema pembiayaan APBD Kabupaten agar selaras dengan visi pembangunan daerah.

Di sisi lain, langkah penyehatan fiskal yang disampaikan Bupati melalui efisiensi dan penataan anggaran mendapat perhatian tersendiri. Warga berharap kebijakan tersebut benar-benar berdampak pada percepatan pembangunan di wilayah yang selama ini merasa tertinggal.

“Yang kami butuhkan bukan banyaknya usulan, tapi realisasi yang jelas tahapannya,” ujar salah satu perwakilan desa seusai forum.

Musrenbang Cilebak 2026 pun menjadi ujian konsistensi antara perencanaan dan pelaksanaan. Bagi masyarakat, forum ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan harapan agar pembangunan benar-benar terasa hingga ke pelosok desa. (vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *