Lonjakan Harga Jelang Lebaran, Pedagang Pasar Cilimus Tetap Bertahan di Tengah Ramainya Pembeli

KARTINI (Kuningan) – Menjelang Idul Fitri 1447 H, denyut aktivitas di Pasar Cilimus, Kabupaten Kuningan, semakin terasa. Di tengah ramainya pembeli yang memadati lorong pasar, para pedagang justru menghadapi tantangan lain: kenaikan harga sejumlah bahan pokok yang mulai terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Salah satu pedagang sayuran, Uti (30), mengaku lonjakan harga terutama terjadi pada komoditas cabai rawit dan tomat. Harga cabai rawit kini mencapai Rp45 ribu per kilogram, sementara tomat menyentuh Rp30 ribu. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena jumlah pembeli meningkat signifikan.

“Pembeli Alhamdulillah ramai. Memang tiap menjelang Lebaran harga naik, tapi biasanya tetap stabil dan masih bisa dijual,” ujarnya.

Fenomena ini bukan hal baru bagi para pedagang. Setiap tahun, menjelang hari besar keagamaan, permintaan yang meningkat seringkali diikuti oleh kenaikan harga. Namun, bagi sebagian pedagang kecil, kondisi ini menjadi dilema antara menjaga daya beli konsumen dan mempertahankan keuntungan.

Di sisi lain, aktivitas pemantauan yang dilakukan pemerintah daerah turut memberikan rasa aman bagi pelaku pasar. Kehadiran Bupati Kuningan bersama jajaran Forkopimda ke Pasar Cilimus menjadi sinyal bahwa kondisi distribusi dan ketersediaan barang masih terkendali.

Meski terdapat kenaikan harga pada beberapa komoditas seperti daging ayam, daging sapi, dan cabai, stok bahan pokok dinilai masih mencukupi. Pemerintah juga menyiapkan berbagai langkah seperti operasi pasar murah dan gerakan pangan murah untuk menekan dampak kenaikan harga.

Bagi masyarakat, kondisi ini memerlukan sikap bijak dalam berbelanja. Sementara bagi pedagang seperti Uti, momentum Lebaran tetap menjadi harapan untuk meningkatkan pendapatan, meski harus menghadapi fluktuasi harga yang tak terhindarkan.

Di tengah hiruk-pikuk pasar dan meningkatnya kebutuhan menjelang hari raya, roda ekonomi rakyat kecil terus berputar—menjadi gambaran nyata bagaimana Lebaran bukan hanya soal perayaan, tetapi juga perjuangan ekonomi sehari-hari. (vr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *